SELAMAT DATANG DI :

SELAMAT DATANG DI :

HARGA ROKOK NAIK

Harga rokok akan mengalami peningkatan. Tarif rokok rencananya akan naik, bahkan tak tanggung-tanggung mencapai 200 hingga 300%. Padahal, biasanya harga rokok dipatok di kisaran harga eceran, yakni tidak lebih dari Rp.20.000. Namun rencananya rokok harganya akan melambung di kisaran Rp.50.000, bahkan bisa lebih.  

           Kebijakan kenaikan harga rokok ini diwarnai kontroversi. Tidak sedikit masyarakat Indonesia yang merasa pro dan kontra atas kebijakan pemerintah. Namun ada pula yang menyatakan netral. Ada kemungkinan bagi masyarakat yang anti rokok, dalam kebijakan pemerintah ini justru dinilai sangat baik. Akan tetapi, bagi para perokok tentu hal semacam ini akan menjadi sebuah momok yang menakutkan.

            Setidaknya wacana dari pemerintah ini membuat Ketua DPR, Ade Komarudin angkat bicara. Pasalnya Ade sendiri menyatakan setuju dengan kenaikan harga rokok yang akan direalisasikan pada bulan September mendatang jika tidak ada kendala. Menurutnya, wacana tersebut sekaligus dapat mengurangi  kebiasaan masyarakat Indonesia agar tidak lagi merokok.
Harga Rokok Naik

            “Saya setuju dengan kenaikan harga rokok,” katanya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Selatan pada hari Jum’at, 19 Agustus 2016 lalu, seperti yang dikutip dalam nasional.kompas.com
            Menyoal persoalan rokok memang tidak akan ada habisnya. Tidak mengherankan bahwa Indonesia merupakan negara dengan jumlah perokok terbesar di dunia. Penghasilan terbesar bangsa kita salah satunya dari rokok. Komoditas terbesar dari rokok dan jumlah perokok Indonesia tercatat dari tahun ke tahun semakin bertambah.
            Selain itu, sebagaimana informasi dari netizen melalui jejaring media sosial seperti BBM (BlackBerryMessengger) dan WA (WhatsApp) menunjukkan telah beredar foto-foto peningkatan harga rokok yang bervariasi. Di minimarket misalnya, harga rokok sampai dibanderol hingga mencapai Rp 67 ribuan. Hal ini dapat diperjelas beberapa foto yang menunjukkan harga rokok meningkat. Misalnya pada gambar menunjukkan harga rokok bermerek Class Mild yang dipatok seharga Rp.67.000 dan Gudang Garam Filter dijual seharga Rp.59.000.

            Kembali lagi kepada persoalan. Foto-foto yang beredar di dunia maya tersebut tidak dapat dipastikan kebenarannya. Sejauh ini, hal itu belum dapat diklarifikasi apakah sesuai dengan fakta yang ada di lapangan. Kapankah rokok benar-benar ditetapkan meningkat hingga kini masih menjadi tanda tanya besar.

            Pemerintah Indonesia, Joko Widodo sudah mempunyai rencana untuk menaikkan harga rokok menjadi dua kali lipat, bahkan bisa lebih daripada itu. Rencana ini mencuat dan menjadi tren di beberapa sosial media dan pemberitaan. Orang mulai ramai membicarakan wacana dari pemerintah yang akan menaikkan cukai rokok.

            Berikut ini adalah pro dan kontra yang terjadi di masyarakat mengenai harga rokok yang dilansir fanpage Kompas.com:

Harga Rokok Naik 50 Ribu

            Jumlah perokok di Indonesia sendiri sudah mencapai tingkat darurat dan hal ini menjadikan Indonesia sebagai negara peringkat satu di dunia untuk jumlah pria perokok termuda, yakni pada usia di atas 15 tahun. Hal ini berdasarkan data konkret dan terbaru menurut The Tobacco Atlas 2015. Dari data tersebut menunjukkan jumlah yang fantastis. Sebanyak 66% pria di Indonesia rupanya merokok.

            “Dengan kata lain, dua dari tiga laki-laki usia di atas 15 tahun di Indonesia adalah perokok,” terang Lily Sulistyowati selaku Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementrian Kesehatan pada Selasa, 25 Mei 2016 lalu di Jakarta.

            Selain Indonesia menduduki peringkat pertama dengan jumlah perokok yang bisa dikatakan paling besar di dunia, ada Rusia yang menempati posisi kedua perokok pria di atas usia 15 tahun dengan prosentase yang nyaris serupa dengan Indonesia, yakni 60%. Hal ini menunjukkan selisih 6% dari Indonesia. Peringkat ketiga adalah Cina dengan prosentase 53%. Indonesia masih memimpin jumlah perokok terbesar. Negara kita boleh dibilang sebagai juara rokok.

            Negara-negara perokok terbesar di dunia, mulai dari peringkat terbesar, Indonesia, Rusia, Cina, kemudian disusul negara-negara Asia Tenggara seperti Filipina dan Vietnam. Keseluruhan negara-negara tersebut merupakan negara di benua Asia. Ini artinya, 5 negara dengan jumlah perokok terbesar tersebut berasal dari benua Asia.

            Selain itu, sebanyak dua dari tiga laki-laki di Indonesia adalah perokok. Hal ini tak mengherankan jika banyaknya lelaki yang merokok hampir dijumpai di banyak lokasi. Seolah-olah rokok menjadi candu dan kebutuhan yang harus diprioritaskan. Hal ini jelas tak dapat menampik jika Indonesia sudah berada di peringkat satu dunia untuk jumlah pria perokok di atas usia 15 tahun menurut data The Tobbaco Atlas 2015.

            Banyaknya anak Indonesia yang merokok, membuktikan betapa lengahnya peran orangtua dalam mendidik anak. Selain orang tua, kesadaran dari anak tersebut juga harus ditimbulkan. Generasi penerus bangsa harus mendapat perhatian yang lebih, terlebih lagi masalah kesehatannya. Selain orang tua dan anak, sekolah perlu mensosialisasikan terkait norma-norma yang berlaku dan bahaya yang ditimbulkan daripada asap rokok.

            “Sekitar 60% efek rokok merusak kesehatan, sedangkan sisanya bisa menyebabkan kematian,” demikian menurut Dr. Sinead Jones, Direktur The British Medical Association’s Tobbaco Control Resource Centre yang dilansir dalam raihkesehatan.com

            Orang tua tidak boleh hanya menyalahkan anaknya yang merokok, sebab perlu intropeksi diri terlebih dahulu, apakah dari pihak orang tua ada yang merokok atau tidak? Hal ini penting, karena pola dan perilaku anak dapat mencerminkan karakteristik orang tuanya.

            Anak-anak biasanya cenderung menirukan apa yang dilihat dan dilakukan oleh orang tuanya, teman sebaya, atau bahkan orang lain. Salah satu pengaruh paling umum, yakni melihat bapaknya merokok. Seorang bapak yang seharusnya mencontohkan dan memberi teladan yang baik malah mencontohkan yang tidak benar, maka hal ini jelas akan merugikan kesehatan dirinya dan keluarganya.

            Di Indonesia sendiri, pemandangan seorang bapak menggendong anaknya yang masih kecil sambil merokok sudah dianggap lumrah. Tak pelak, kondisi itulah yang mengakibatkan anak-anak usia 10 hingga 14 tahun sudah mulai merokok.

            “Apalagi remaja sedang mencari jati diri. Mereka senang mencoba hal-hal baru seperti rokok,” ujar Lily seperti yang dikutip dari laman republika.co.id

            Hal ini diperkuat lagi dengan hadirnya tayangan iklan rokok yang begitu inspiratif. Dalam ikla tersebunt, biasanya selalu digambarkan laki-laki sukses, macho, dan disukai oleh banyak perempuan.

            “Ini mendorong anak-anak, remaja tertarik untuk merokok. Sebab, dengan merokok mereka merasa macho,” imbuhnya lagi.

            Ada kajian tentang kebiasaan merokok yang mulai terungkap. Dari Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan UI mencatat, selama tahun 2015, sebanyak 370 miliar batang rokok dibakar.

            Menanggapi hal ini tentunya sungguh begitu ironis, pasalnya perokok di Indonesia sendiri setiap tahunnya juga mengalami peningkatan yang cukup signifikan, baik perokok pria maupun wanita. Total keseluruhan perokok Indonesia diperkirakan mencapai lebih dari 90.000.000 orang.

            Lily mengungkapkan, data pada tahun 2014, beban penyakit di Indonesia sebanyak 71% akibat penyakit tidak menular, seperti jantung, stroke, kanker, diabetes, dan gagal ginjal.

            “Penyakit tidak menular ini telah menjadi penyebab utama kematian di Indonesia,” kata Lily.

            Sementara menurut dokter spesialis paru dari Rumah Sakit Persahabatan, Agus Dwi Susanto mengatakan bahwa rokok mengandung lebih dari 4.000 zat kimia. Nah, sebanyak 60 di antaranya bersifat karsinogenik atau menyebabkan kanker.

            Agus pun mengungkapkan, pasien kanker paru, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), stroke, dan jantung koroner yang mayoritas adalah para perokok.

            Meninjau kembali tentang harga rokok, Direktorat Jenderal Bea Cukai masih mengkaji atau menganalisis mengenai usulan harga rokok yang akan mengalami kenaikan. Menurutnya, harus mengkomunikasikan dengan seluruh stakeholder, baik yang menilai pro terhadap kesehatan, maupun yang pro terhadap industri, petani karena tentu akan terjadinya tarik ulur di situ.

            Di sisi lain, dalam acara 3rd Indonesian Health Economics Assosiation Congress di Yogyakarta pada hari Kamis 28, Juli 2016. Hasbullah mengatakan, “Dengan menaikkan harga rokok, dapat menurunkan prevalensi perokok, terutama pada masyarakat yang tidak mampu.”

            Hasbullah Thabrany, Kepala Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan Universitas Indonesia. Menurut hasil studi atau kajiannya beserta rekannya tersebut. Sejumlah perokok akan berhenti merokok apabila harganya dinaikkan hingga dua kali lipat. Pada survei yang ditujukan kepada 1.000 responden melalui telepon dalam tempo sejak bulan Desember 2015 silam sampai dengan Januari 2016 menunjukkan bahwa sebanyak 72% perokok mengatakan akan berhenti merokok walaupun harga rokok melambung tinggi, yakni di atas Rp.50.000.

            Dalam hasil studi tersebut juga menunjukkan bahwa 76% perokok menyatakan setuju jika harga rokok dan cukai dinaikkan. Hasbullah mengatakan, strategi menaikkan harga dan cukai rokok pun sudah terbukti efektif menurunkan jumlah perokok di beberapa negara

            Di twitter kenaikan harga rokok sempat menjadi trending topic. Sementara melalui jejaring media online, WA (WhatsApp) menjadi sangat ramai pada Agustus 2016 ini terkait rencana naiknya harga rokok oleh pemerintah. Hal ini jelas menyulut pro dan kontra dan menjadi perbincangan hangat.
            Usulan pemerintah Indonesia mengenai harga rokok yang akan melonjak tersebut mencuat semenjak pemerintah mengkaji penyesuaian tarif bea cukai rokok sebagai patokan dari harga rokok untuk para konsumen.

           Joko Widodo rencananya akan merealisasikan keputusan naiknya harga rokok yang mencapai angka Rp.50.000 pada bulan September 2016 mendatang. Hal ini semoga berdampak positif bagi masyarakat Indonesia yang gemar merokok untuk tidak merokok lagi. Pemerintah berharap ke depannya, jumlah perokok di Indonesia agar bisa berkurang.


            Lalu, sepakatkah anda dengan keputusan Joko Widodo nantinya? 

0 Response to "HARGA ROKOK NAIK"

Post a Comment